Media dan Masyarakat
Media dan Masyarakat
Makalah Media dan Kritik
Sosial
Oleh :
Husein Al-Fataah (B95219101)
Dosen Pengampu :
Abu Amar Bustomi, M.Si
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN
KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2021
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi
Allah, Tuhan semesta alam yang tidak pernah berhenti memberikan segala nikmat
serta karunia kepada penulis. Shalawat serta salam juga semoga senantiasa
selalu terlimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah menuntut kita
dari masa kegelapan kepada zaman yang cerah saat ini. Hanya dengan rahmat-Nya
yang berlimpahlah penulis mampu menyelesaikan makalah guna memenuhi tugas yang
diambil dari beberapa sumber oleh penulis.
Apabila
terdapat banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini mohon dimaklumi. Kritik dan
saran yang diberikan akan senantiasa diterima dan dilaksanakan dengan baik oleh
sang penulis agar dapat melakukan penulisan makalah yang lebih baik lagi. Demikianlah
pengantar dalam makalah ini, penulis ucapkan terima kasih.
BAB I
LATAR
BELAKANG
Dalam perkembangan tekonologi pada abad ke-21,
komunikasi massa menjadi suatu hal yang sangat vital dan dibutuhkan oleh
masyarakat. Komunikasi massa menjadi salah satu pemicur perubahan yang tidak
dapat lagi dihalangi oleh siapapun. Pengaruh komunikasi massa yang diberikan
kepada umat manusia tidak hanya terbatas pada satu aspek saja, melainkan banyak
aspek yang mengalami perubahan yang disebabkan oleh komunikasi massa[1]. Media massa memiliki
banyak keunggulan yaitu dapat menyampaikan sebuah informasi atau pesan dengan
sangat cepat dan serentak kepada masyarakat yang bertempat tinggal secara
terpisah dan bertempat tinggal sangat jauh[2].
Dalam hal komunikasi massa tentunya memerlukan
perantara atau penghubung yang disebut sebagai media. Hal ini sebagaimana yang
pernah dikatakan McLuhan Bersama dengan Quentin Fiore, “media setiap zamannya
menjadi esensi masyarakat” ini membuktikan bahwa saat ini masyarakat dan media
menjadi suatu hal yang saling mengikat dan tidak bias dipisahkan satu sama
lain, walaupun media massa tidak hanya memberikan efek positif tetapi juga bisa
memberikan efek negatif[3].
Media massa memiliki beberapa jenis yaitu, media
cetak, media online, dan media elektronik. Dalam media cetak, terdapat koran,
majalah, buku. Lalu media online meliputi website atau media social, sedangkan
media elektronik memiliki macam seperti televisi, radio dan televisi. Ketiga
jenis media tersebut memiliki strategi masing-masing yang digunakan untuk
menarik perhatian di masyarakat, namun media social saat ini menjadi media
massa yang memiliki banyak peminat[4].
Terdapat pula undang-undang yang menjelaskan tentang
fungsi media massa, yang terdapat pada UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers,
fungsi dari media massa adalah untuk memberikan informasi, melakukan edukasi,
menyajikan hiburan, serta melakukan kontrol social dalam mengawasi perilaku
yang dilakukan di ranah publik dan menjadi pengawas penguasa. Media massa yang
memberikan pengaruh kepada individua tau masyarakat dapat dikatakan berhasil
menjadi sebuah media massa yang berperan sebagai agent of change (Marhaeni, 2004)[5].
Media tidak hanya dapat mempengaruhi apa yang
seseorang telah ketahui melainkan juga mempengaruhi bagaimana seseorang belajar
tentang dunianya dan berinteraksi satu sama lain. Pengaruh media massa meliputi
tiga aspek; Pertama, aspek kognitif, yang artinya dari tidak tahu menjadi tahu.
Contohnya seseorang yang berada di dalam rumah tidak akan mengetahui sesuatu
peristiwa yang terjadi di luar, namun dengan adanya media massa seseorang
menjadi tahu peristiwa yang sedang atau telah terjadi di luar rumah, luar
daerah, bahkan luar negeri. Seperti gempa di Lombok yang terjadi beberapa bulan
yang lalu, seseorang yang berada di Bandung tidak akan tahu mengenai gempa di
Lombok jika tidak disiarkan melalui media massa, melalui media massa, seseorang
memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah
dikunjungi secara langsung. Kedua, aspek afektif yang berarti dari tidak suka
menjadi suka. Pada aspek ini juga dapat meningkatkan atau menurunkan dukungan
moral. Contoh dari efek afektif ini seperti iklan peralatan make up yang ada di
televisi ataupun internet, seorang wanita yang awalnya tidak menyukai riasan
akan tergoda dengan iklan yang ditayangkan di televisi dan internet karena
melihat aktrisnya yang cantik, dan gaya bahasa yang digunakan sehingga ada
hasrat ingin membeli dan memakainya agar dapat terlihat cantik seperti aktris
produk ersebut. Ketiga, aspek konatif yaitu merubah sikap dan perilaku. media
massa sangat berperan dalam perkembangan bahkan perubahan tingkah laku suatu
masyarakat, oleh karena itu kedudukan media massa sangat penting.
Perubahan sikap dan perilaku ini seperti anak-anak
yang menyukai film Upin dan Ipin, dengan menonton dan mendalami karakter Upin
dan Ipin yang sopan, ceria dan rajin beribadah, maka secara tidak langsung hal
tersebut mengajarkan pada anak untuk berperilaku seperti itu. Melalui tayangan
Upin dan Ipin beberapa anak pun rajin beribadah. Selain merubah sikap menjadi
lebih baik, media massa juga merubah budaya suatu masyarakat seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya dalam peran media massa[6].
1. Apa
definisi media dan masyarakat?
2. Bagaimana
peran dan posisi media di dalam masyarakat?
1. Mengetahui
definisi media dan masyarakat
2. Mengetahui
peran dan posisi media di dalam masyarakat
BAB II
ISI
Media adalah alat atau
sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada
khalayak. Istilah “massa”mengacu pada kolektivitas tanpa bentuk, yang
komponennya sulit dibedakan satu sama lain (McQuail, 1994: 31). Menurut kamus
bahasa Inggris ringkas memberikan definisi “massa” sebagai suatu kumpulam orang
banyak yang tidak mengenal keberadaan individualitas”. Jika khalayak tersebar
tanpa diketahui dimana mereka berada, maka biasanya digunakan media massa.
Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber ke
penerima dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar,
film, radio dan televisi. Adapun karakteristik media massa menurut Hafied
Cangara (1998: 134- 135) adalah:
1. Bersifat melembaga,
artinya pihak yang mengelola media terdiri dari banyak orang, yakni mulai dari
pengumpulan, pengelolaan sampai pada penyajian informasi.
2. Bersifat satu arah,
artinya komunikasi yang dilakukan kurang memungkinkan terjadinya dialog antara
pengirim dan penerima. Kalau toh terjadi reaksi atau umpan balik, biasanya
memerlukan waktu dan tertunda.
3. Meluas dan serempak,
artinya dapat mengatasi rintangan waktu dan jarak, karena ia memiliki kecepatan
bergerak secara luas dan simultan, dimana informasi yang disampaikan diterima
oleh banyak orang pada saat yang sama.
4. Memakai peralatan
teknis atau mekanis, seperti radio, televisi, film dan semacamnya.
5. Bersifat terbuka,
artinya pesannya dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja tanpa mengenal
usia, jenis kelamin, dan suku bangsa. Jadi, media massa adalah industri dan
teknologi komunikasi yang mencakup surat kabar, majalah, radio, televisi dan
film. Istilah ‘massa’ mengacu pada kemampuan teknologi komunikasi untuk
mengirimkan pesan melalu ruang dan waktu dan menjangkau banyak orang[7].
Definisi
Masyarakat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti “sejumlah
manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka
anggap sama” sedangkan menurut Paul B Horton dan C. Hunt masyarakat merupakan
kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang
cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta
melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia
tersebut. Masyarakat (yang diterjemahkan dari istilah society) adalah
sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau sebaliknya,
dimana kebanyakan interaksi adalah antara individu-individu yang terdapat dalam
kelompok tersebut. Kata "masyarakat" berakar dari bahasa Arab,
musyarakah.
Arti
yang lebih luasnya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan
antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah kelompok atau komunitas yang
interdependen atau individu yang saling bergantung antara yang satu dengan
lainnya. Pada umumnya sebutan masyarakat dipakai untuk mengacu sekelompok
individu yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Syaikh
Taqyuddin An-Nabhani seorang pakar sosiologi menjabarkan tentang definisi
masyarakat, "sekelompok manusia bisa disebut sebagai suatu masyarakat
apabila mempunyai pemikiran, perasaan, serta sistem atau aturan yang
sama". Dengan kesamaan itu, manusia lalu berhubungan saling berinteraksi
antara sesama mereka berdasarkan kepentingan bersama. Masyarakat sering
dikelompokkan berdasarkan cara utamanya dalam mencari penghasilan atau
kebutuhan hidup. Beberapa ahli ilmu sosial mengelompokkan masyarakat sebagai:
masyarakat pastoral nomadis, masyarakat pemburu, masyarakat bercocoktanam, dan
masyarakat agrikultural intensif disebut juga sebagai masyarakat peradaban[8].
Posisi media
menjadi penting seiring dengan hadirnya banyak media di tengah masyarakat.
Kehadiran media tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat baik di daerah
perkotaan maupun pedesaan. Kondisi dari setiap media dewasa ini, terutama
setelah hadirnya media sosial sangat memperluas cakupan komunikasi manusia.
Untuk lebih jelasnya tentang posisi media, berikut penjelasannya. Pertama,
Media Cetak. Koran, sekian tahun lalu keberadaan koran dianggap segera
berakhir. Jika dapat bertahan setelah adanya televisi, koran dinilai tidak akan
banyak berpengaruh lagi. Pandangan ini memiliki alasan, karena banyak koran di
kota-kota besar terpaksa gulung tikar. Namun sejak 1970-an, koran terbukti
mampu bertahan, meskipun prosesnya memang tidak mudah. Sekalipun sebagian koran
terbesar gagal bertahan, koran-koran yang mampu menyajikan pelayanan baru,
khususnya di daerah pinggir kota berhasil menyelamatkan diri. Majalah, sama
halnya dengan koran, majalah juga harus berusaha keras menyesuaikan diri dengan
kondisi-kondisi baru. Majalah yang mampu bertahan umumnya adalah yang bersifat
khusus, misalnya majalah khusus wisata, olahraga, hobi perahu layar, penggemar
acara televisi atau berita-berita ilmiah. Kedua, Media Siran.
Radio semakin terdesak
oleh televisi, namun masih memiliki banyak penggemar. Kecendrungannya adalah
jangkauan siaran radio semakin sempit sehingga yang paling mampu bertahan
adalah radio-radio yang hanya melayani suatu wilayah kecil saja. Tantangannya
tidak kalah dari yang dihadapi oleh koran dan majalah, namun radio terbantu
oleh penemuan transistor yang membuatnya jauh lebih ringkas. Selain radio,
media siaran juga terdiri dari televisi.
Televisi merupakan media
baru setelah hadirnya radio. Masyarakat lebih menikmati acara yang disiarkan
oleh televisi dibandingkan media lainnya sebab dengan televisi, masyarakat
dapat melihat dan mendengar perstiwa yang disampaikan. Berdasarkan dua jenis
media massa tersebut setiap media memiliki sejarah dan karakteristik yang
berbeda sehingga baik media cetak ataupun siaran sangat dibutuhkan sebagai
sarana komunikasi massa. Perkembangan media massa tentu saja mengalami pasang
surut, namun para pengelola media tidak tinggal diam ketika media yang dikelola
mengalami penurunan peminat, karena semakin berkembanganya suatu teknologi dan
kemampuan manusia dalam menciptakan inovasi untuk berkomunikasi, kini selain
media cetak dan media siaran, produk media massa pun berkembang pada media
online.
Sejak awal khalayak media
adalah masyarakat luas secara keseluruhan, bukan hanya kalangan tertentu.
Pengelola media di Indonesia hingga kini masih terus mengembangkan kemampuannya
dalam upaya menghadapi dunia baru dan menyediakan program-program unggulan yang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta dapat bersaing satu sama lain. Di
samping media massa, media sosial yang merupakan salah satu jenis media online
juga turut hadir dalam kehidupan masyarakat. Media sosial lebih dominan sebagai
sarana interaksi dan penyalur informasi. Dewasa ini, media sosial yang sering
digunakan oleh masyarakat sebagai berikut; (1) WhatsApp (WA) sebagai sarana
interaksi dengan anggota yang nomor WAnya telah diketahui terlebih dahulu dan
dapat melihat story (tulisan, foto, video) apabila nomor kedua orang yang
melakukan interaksi telah disimpan pada kontak HP. (2) Facebook (FB) merupakan
media komunikasi yang cakupannya lebih luas dari WA, dan anggotanya dapat
dicari sesuai dengan nama FB. Melalui FB seseorang dapat menulis sesuatu yang
panjang atau pendek yang disebut status, upload foto dan video. (3) Instagram
(IG), media ini mirip dengan FB yang memiliki cakupan luas dan anggotanya dapat
dicari sesuai dengan nama IGnya.
Pengguna IG lebih sering
mengupload foto atau video beserta caption dibanding dengan hanya mengupload
tulisan dikarenakan kapasitasnya yang terbatas. Berbeda dengan WA, melalui FB
dan IG pengguna dapat mengintip beranda atau status seseorang tanpa harus
menambah ataupun mengonfirmasi pertemanan terlebih dahulu namun berbeda halnya
apabila ada beberapa pengguna IG sengaja mengunci berandanya sehingga orang
yang tidak.
Kebutuhan setiap masyarakat
pada berbagai media berbeda-beda sehingga media memiliki posisi yang berbeda
pula di kalangan masyarakat. Media cetak menjadi media yang penting dikalangan
orang dewasa khususnya bapak-bapak. Media cetak yang masih bertahan hingga saat
ini adalah koran sedangkan majalah sudah tidak lagi terlihat. Begitu pentingnya
koran bahkan beberapa dari kalangan tersebut sengaja berlangganan koran untuk
mendapatkan informasi dan berita hangat. Halaman yang sering diincar oleh
pembaca koran adalah halaman yang membahas politik, ekonomi, olahraga dan kolom
lowongan pekerjaan. Bagi masyarakat yang menyukai berbagai hal berkaitan dengan
politik akan memfokuskan diri untuk membaca koran dengan subjudul politik.
Begitupun dengan subjudul lainnya. Sama halnya dengan informasi lowongan
pekerjaan, iklan lowongan pekerjaan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang
belum mendapatkan pekerjaan tetap[9].
.
D.
Peran
Media Dalam Masyarakat
Media massa merupakan
sarana komunikasi massa yang berperan sebagai komunikator serta agen of change
yakni pelopor perubahan dalam lingkungan publik yang dapat mempengaruhi
khalayak melalui pesan berupa informasi, hiburan, pendidikan maupun pesan-pesan
lainnya dan dapat dijangkau masyarakat secara luas. Dewasa ini, di era
globalisasi yang semakin cepat, peran media massa dalam kehidupan manusia
sehari-hari tidak dapat dihindari lagi. Mengingat bahwa posisi media massa
dalam kehidupan masyarakat begitu penting maka kesuksesan media massa dalam
menjalankan perannya sebagai komunikator dapat dilihat dari semakin
berkembangnya media massa, bertahannya media massa hingga saat ini, dan semakin
bertambahnya stasiun, perusahaan hingga website dan program yang disuguhkan
oleh pengelola media cetak dan media elektronik. Media massa tidak akan
bertahan hingga saat ini apabila tidak ada masyarakat yang menggunakan atau
memanfaatkannya dalam kehidupan, karena bagaimanapun media massa tergantung
pada banyaknya pemirsa. Apabila dilihat secara menyeluruh, menurut McQuail
terdapat 6 (enam) perspektif dalam melihat peran media massa dalam kehidupan
sosial terutama dalam masyarakat modern, antara lain :
1. Melihat media massa
sebagai window on event and experience. Media dipandang sebagai jendela yang
memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana, atau media
merupakan sarana informasi untuk mengetahui berbagai peristiwa.
2. Media sering dianggap
sebagai a mirror of event in socity and the world, implying a faithful
reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang
merefleksikan apa adanya, karenanya para pengelola media sering merasa tidak
bersalah jika media penuh dengan kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai
keburukan lain.
3. Memandang media massa
sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi
perhatian atau tidak. Televisi senantiasa memilih isu, informasi atau bentuk
content yang lain berdasarkan standar para pengelolanya.
4. Media massa sering dipandang sebagai guide,
penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas
berbagai ketidakpastian, atau alternatif yang beragam.
5. Melihat media massa
sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada
khalayak, sehingga memungkinkan tejadinya tanggapan dan umpan balik.
6. Media massa sebagai interlocutor, yang
tidak hanya sekedar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner
komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.124 Tidak jauh
berbeda dengan peran media massa itu sendiri, perspektif dalam melihat peran
media menurut McQuail di atas pada dasarnya ingin menunjukan bahwa peran media
dalam kehidupan sosial bukan hanya sebagai sarana hiburan atau pelepas
ketegangan, melainkan isi dan informasi yang disajikan mempunyai peran yang
signifikan dalam proses sosial.
Peran yang signifikan ini
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa media massa berperan
mempengaruhi masyarakat melalui beberapa konten, salah satunya adalah
pendidikan. Dalam konten pendidikan, media massa mencoba memberikan pencerahan,
mencerdaskan dan meluaskan wawasan pendengar, penonton dan pembacanya. Misalnya
dalam konteks politik, media massa memberikan pendidikan politik, menyadarkan
khalayak akan hak dan kewajiban sebagai warga Negara, dan juga bisa lebih
mengenal pemimpin atau calon presiden dan calon wakil presiden melalui debat
yang disiarkan. Isi siaran media massa merupakan konsumsi otak bagi masyarakat,
sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi realitas subjektif
pelaku interaksi sosial, dikarenakan media adalah mata manusia untuk melihat
dunia.
Hal ini menunjukan peran
aktif media dalam menyajikan informasi kepada khalayak, penyajiannya dengan
menggunakan teori agenda setting, di mana teori agenda setting menurut Maxwell
McCombs dan Donal Shaw adalah “mass media have the ability to transfer the
salience of items on their news agendas to the public agenda. We judge as
important what the media judge as important” (media massa memiliki kemampuan
memindahkan hal-hal penting dari agenda berita mereka menjadi agenda publik.
Kita menilai penting apa saja yang dinilai penting oleh media).
Gambaran tentang realitas
yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang kemudian akan mendasari respon
dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial. Kesalahan dalam proses
pemberitaan akan membuat audience menerima pesan yang tidak lengkap, sehingga
menimbulkan gambaran yang salah pula terhadap objek sosial, oleh karenanya
media massa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas.
Peran media massa juga tidak bisa terlepas dari fungsi media massa itu sendiri.
Ketika menjalankan perannya, media massa harus memperhatikan dan mengingat
fungsinya. Berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers, media massa
berfungsi untuk menginformasikan, mendidik, menghibur, dan pengawasan sosial
(social control)-pengawas perilaku publik dan penguasa[10]
BAB III
Kesimpulan
Media memiliki posisi
yang penting dalam kehidupan masyarakat. Setiap jenis media memiliki khalayak
yang setia. Media yang dominan membahas berita sering dimanfaatkan oleh orang
dewasa. Media yang lebih dominan membahas informasi dan hiburan memiliki posisi
yang penting dikalangan ibu-ibu, remaja serta anak-anak.
Media online memiliki
khalayak yang netral dari kalangan dewasa hingga anak-anak. Peran media dalam
kehidupan sehari-hari yakni sebagai komunikator serta agen of change dan sarana
interaksi. Media memiliki peran yang sangat penting sehingga posisi media
masapun menjadi penting dalam masyarakat.
Sebagai bentuk dari
pentingnya media dapat dilihat dari pengaruh yang dirasakan oleh khalayak, mulai
dari aspek kognitif, afektif, hingga
konatif dari media massa dan dampak positif negative dari media sosial.
Walaupun posisi dan peran media sangat penting akan tetapi masyarakat juga
harus berhati-hati dengan media mengingat bahwa sifat media yang begitu
fleksibel. Nilai negatif atas peranan media di Indonesia bisa saja terjadi baik
dari media massa ataupun media sosial, sehingga perlu adanya perhatian dari
setiap pihak, baik dari pengelola media hingga masyarakat itu sendiri.
Keikutsertaan beberapa pihak dalam memperhatikan media diharapkan dapat
menyaring hal-hal negatif yang mungkin dapat terjadi
DAFTAR PUSTAKA
Fathanudien,
Suwari Akhmaddhian & Anthon. “Partisipasi Masyarakat Dalam Mewujudkan
Kuningan Sebagai Kabupaten Konservasi (Studi Di Kabupaten Kuningan).” UNIFIKASI :
Jurnal Ilmu Hukum 2, no. 1 (March 6, 2015). Accessed September 21, 2021.
https://journal.uniku.ac.id/index.php/unifikasi/article/view/26.
Khatimah, Husnul. “POSISI DAN PERAN MEDIA
DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT.” TASÂMUH 16, no. 1 (December 1, 2018):
119–138.
Nur, Emilsyah. “PERAN MEDIA MASSA DALAM
MENGHADAPI SERBUAN MEDIA ONLINE.” Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi
Massa 2, no. 1 (2021). Accessed September 12, 2021.
https://jurnal.kominfo.go.id/index.php/mkm/article/view/4198.
Thaha, Hamdani. “MEDIA MASSA DAN
MASYARAKAT.” AL TAJDID 1, no. 1 (2009). Accessed September 12, 2021.
https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/tajdid/article/view/570.
[1] Hamdani Thaha, “MEDIA MASSA DAN
MASYARAKAT,” AL TAJDID 1, no. 1 (2009), accessed September 12, 2021,
https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/tajdid/article/view/570.
[2] Ibid.
[3] Husnul Khatimah, “POSISI DAN PERAN MEDIA
DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT,” TASÂMUH 16, no. 1 (December 1, 2018):
119–138.
[4] Ibid.
[5] Emilsyah Nur, “PERAN MEDIA MASSA DALAM
MENGHADAPI SERBUAN MEDIA ONLINE,” Majalah Semi Ilmiah Populer Komunikasi
Massa 2, no. 1 (2021), accessed September 12, 2021,
https://jurnal.kominfo.go.id/index.php/mkm/article/view/4198.
[6] Ibid.
[7] Thaha, “MEDIA MASSA DAN MASYARAKAT.”
[8] Suwari Akhmaddhian & Anthon
Fathanudien, “Partisipasi Masyarakat Dalam Mewujudkan Kuningan Sebagai
Kabupaten Konservasi (Studi Di Kabupaten Kuningan),” UNIFIKASI : Jurnal Ilmu
Hukum 2, no. 1 (March 6, 2015), accessed September 21, 2021,
https://journal.uniku.ac.id/index.php/unifikasi/article/view/26.
[9] Khatimah, “POSISI DAN PERAN MEDIA DALAM
KEHIDUPAN MASYARAKAT.”
[10] Ibid.

Comments
Post a Comment